Pengaruh Pupuk Kascing Terhadap Kemampuan Mengikat Air pada Tanah Lempung dan Lempung Berpasir

Monica Rina Tutkey, Fatchan Nurrochmad, Sri Harto Brotowiryatmo
*

Sari


Sistem irigasi hemat air akan baik jika tanah mampu mengikat air secara maksimal. Kendalanya tidak semua tanah memiliki kemampuan mengikat air yang baik sehingga dibutuhkan cara untuk memaksimalkan kemampuan mengikat air. Pemberian pupuk organik dengan komposisi yang tepat dapat meningkatkan kemampuan mengikat air, karena bahan organik yang terkandung di dalamnya memiliki kemampuan agregasi yang dapat mengikat butiran-butiran kecil menjadi butiran yang lebih besar sehingga dapat menambah kemampuan mengikat air. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan mengikat air yang paling maksimal dari penambahan pupuk kascing sebesar 0%, 29%, 33%, 40%, 50%, 60%, 67% dan 71% pada jenis tanah lempung dan lempung berpasir. Setiap sampel pengujian diulang tiga kali. Metode Kurva pF digunakan untuk mengetahui kemampuan mengikat air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mengikat air maksimum tanah lempung adalah 19,14% pada persentase pupuk kascing 40% atau meningkat 13,56% dari tanah aslinya. Pemberian pupuk kascing pada tanah lempung berpasir cenderung menurunkan kemampuan mengikat air. Kemampuan mengikat air maksimum  tanah lempung berpasir adalah 27,87% pada persentase pupuk kascing 0% (tanah asli). Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan uji coba tanaman padi pada komposisi terbaik menggunakan metode hemat air.

Vermicompost effect on water holding capacity of loam and sandy loam soil


Kata Kunci


irigasi hemat air; kemampuan mengikat air; komposisi; kurva pf; pupuk kascing; sifat fisik tanah

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Anwar, E. K. (2009). Efektivitas cacing tanah Pheretima hupiensis, Edrellus sp. dan Lumbricus sp. dalam proses dekomposisi bahan organik. Jurnal Tanah Trop, 14(2), 149–158.

Ayu, S. P. C. (2013). Kapasitas Maksimum Kepadatan Tanah pada Berbagai Distribusi Ukuran Partikel dan Kadar Bahan Organik Tanah dalam Kondisi Kering Udara dan Kapasitas Lapang (Skripsi). Institut Pertanian Bogor, Bogor. Diperoleh dari http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/63706

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2006). Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisisnya. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Baskoro, D. P. T., & Tarigan, S. D. (2007). Karakteristik kelembaban tanah pada beberapa jenis tanah. Jurnal Tanah dan Lingkungan, 9(2), 77–81.

Chaudhari, P. R., Ahire, D. V., Ahire, V. D., Chkravarty, M., & Maity, S. (2013). Soil bulk density as related to soil texture, organic matter content and available total nutrients of coimbatore soil. International Journal of Scientific and Research Publications, 3(2), 1–8.

Hillel, D. (1971). Soil and Water Physical Principles and Processes. London: Academic Press.

Hirich, A., Choukr-Allah, R., & Jacobsen, S. E. (2014). Deficit irrigation and organic compost improve growth and yield of quinoa and pea. Journal of Agronomy and Crop Science, 200(5), 390–398.

Intara, Y. I., Sapei, A., Erizal, Sembiring, N., & Djoefrie, M. H. B. (2011). Pengaruh pemberian bahan organik pada tanah liat dan lempung berliat terhadap kemampuan mengikat air. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 16(2), 130–135.

Kusumawati, N. (2011). Evaluasi perubahan temperatur, pH dan kelembaban media pada pembuatan vermikompos dari campuran jerami padi dan kotoran sapi menggunakan Lumbricus rubellus. Jurnal Inovasi dan Aplikasi Teknologi, 15(1), 45–56.

Margolang, R. D., Jamilah, & Sembiring, M. (2015). Karakteristik beberapa sifat fisik, kimia, dan biologi tanah pada sistem pertanian organik. Jurnal Online Agroekoteaknologi, 3(2), 717–723.

Mawardi, M. (2011). Tanah-Air-Tanaman: Asas Irigasi dan Konservasi Air. Yogyakarta: Bursa Ilmu.

Novita, R. Y., Sampoerno, & Khoiri, M. A. (2014). Pemberian pupuk kascing dan urea terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.). Jom Faperta, 1(2), 1–10.

Nurrochmad, F. (2007). Kajian pola hemat pemberian air irigasi. Jurnal Forum Teknik Sipil, 17(2), 517–529.

Rawls, W. J., Pachepsky, Y. A., Ritchie, J. C., Sobecki, T. M., & Bloodworth, H. (2003). Effect of soil organic carbon on soil water retention. Geoderma Journal, 116(1–2), 61–67.

Richards, L. A., & Fireman, M. (1943). Apparatus for measuring moisture sorption and transmission by soils. Soil Science Journal, 56(6), 395–404.

Rusdianto, E. (2008). Kajian Metode Irigasi Hemat Air Padi Sawah. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Schjønning, P., Munkholm, L. J., Elmholt, S., & Olesen, J. E. (2007). Organic matter and soil tilth in arable farming: Management makes a difference within 5–6 years. Agriculture, ecosystems & environment, 122(2), 157–172.

Soegiman. (1982). Ilmu Tanah. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Subari, Joubert, M. D., Sofiuddin, H. A., & Triyono, J. (2012). Pengaruh perlakuan pemberian air irigasi pada budidaya SRI, PTT dan konvensional terhadap produktivitas air. Jurnal Irigasi, 7(1), 28–42.

Sudirja, R. (2007). Standar Mutu Pupuk Organik dan Pembenah Tanah. Bandung: Balai Besar Pengembangan dan Perluasan Kerja, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Republik Indonesia.

Utomo, P. (2014). Kajian Pengaruh Pupuk Organik Terhadap Sifat Hidrofisik Pada Tanah Sawah di Dusun Pepen Desa Trimulyo Kecamatan Sleman Kabupaten Sleman (Skripsi). Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Walkley, A., & Black, I. A. (1934). An examination of the Degtjareff method for determining soil organic matter, and a proposed modification of the chromic acid titration method. Soil Science Journal, 37(1), 29–38.


Statistik Tampilan

Sari : 1224 kali
PDF : 2559 kali


DOI: http://dx.doi.org/10.31028/ji.v12.i2.87-96

Hak Cipta (c) 2018 Jurnal Irigasi



Jurnal Irigasi terindeks oleh:

 

Creative Commons License

Jurnal ini di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License. Hak Cipta Jurnal Irigasi, didukung oleh OJS.